Hukum Dalam Islam Bagi Orang Penebar Berita Palsu "Hoax"

Hukum Dalam Islam Bagi Orang Penebar Berita Palsu "Hoax"

Tulisanpanda, Bicara soal hoax atau berita palsu, pada zaman sekarang sangat marak sekali dengan berita dan informasi hoax. Apalagi indonesia pada saat ini mulai memasuki masa pemilu capres untuk 2019-2024 masa akan datang. Nah bagaimana sih dalam islam hukumnnya "penyebar/penebar hoax (berita palsu). 

Nah gue akan menjelaskan bagaimana dalam pandangan islam tentang para penyebar berita palsu. Silahkam disimak dan insya allah bermanfaat. Aamiin.

Salah satu penyebab perpecahan umat yang sudah sangat mengkhawatirkan hari ini adalah menerima berita dari orang lain tanpa menyaringnya dengan kritis.

Dari keterangan reporter Washington Post, kata Muchlis, seorang penulis berita hoax bisa memperoleh ‘gaji’ lebih dari 10 ribu dolar AS atau setara Rp135 juta per bulan.

Data ini didapat dari Paul Horner, seorang penulis berita palsu di Facebook. Bahkan Buzzfeed melaporkan, sekelompok remaja Macedonia melihat berita hoax sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.

Menurut Muchlis, berita palsu atau hoax memang selalu mengundang penasaran, hal inilah yang akan datangkan trafik. Semakin besar trafik maka semakin besar pula penghasilan dari periklanan google.

Lalu bagaimanakah hukum Islam dalam penyebaran berita hoax? Menurut Muchlis yang juga Direktur Eksekutif Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta ini, menyebarluaskan berita bohong (hoax) merupakan dosa besar.

Penyebaran berita hoax akan menimbulkan gejolak dan fitnah yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.

Menurut Syeikh Abdurrahman as-Sa'di, sebagai makhluk yang diberi akal, kita harus hati-hati dalam menerima sebuah isi berita. Harus melakukan proses seleksi, menyaring, dan jangan sembrono dengan menerimanya begitu saja.

Dalam literatur-literatur ushul fiqh disebutkan dengan begitu jelas definisi sebuah berita; sesuatu yang mungkin benar sekaligus mungkin salah.

Bahkan dalam diskursus hadis, ada sebuah ilmu khusus yang membahas tentang para informan hadis (jarh wa ta'dil). Sebuah upaya memverifikasi kesahihan periwayatan melalui jalur para informannya.

Mari muhasabah atau introspeksi diri kita agar tidak terjebak dan terjerembab dalam kubangan para pembual dan pemfitnah. Salah satu jalan menghindari hoax dengan memverifikasi berita.

Allah SWT telah mewanti-wanti umat Islam untuk tidak gegabah dalam membenarkan sebuah berita yang disampaikan oleh orang fasik.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS al-Hujurat:6)
Syeikh Thahir ibn Asyur, ahli tafsir kenamaan asal Tunisia, dalam kitabnya berjudul tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir menafsirkan ayat di sebagai sebuah penjelasan bahwa kita harus berhati-hati dalam menerima berita seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya. Hal ini baik dalam ranah persaksian maupun dalam periwayatan.

Dalam konteks hari ini, kita dituntut agar berhati-hati dalam menerima pemberitaan dari media apapun, terlebih media yang isinya sarat dengan muatan kebencian kepada pihak lain.

Majelis Ulama Indonesia, Senin lalu juga sudah mengharamkan berita hoax, walau tujuannya baik. Menyebarkan informasi yang benar tetapi tidak sesuai tempat atau waktunya juga dilarang oleh para ulama.

Jika ada kata yang salah ada penulisan salah, tolong komen dan jika bermanfaat share:) @al

You Might Also Like: